Banyak buku panduan menulis
menguraikan bahwa menulis itu gampang. Karena gampang, siapa pun bisa
menulis, semua orang bisa menjadi penulis. Aneka tips pun disodorkan
kepada mereka yang ingin belajar menulis. Tips-tips itu, konon, membuat
orang lebih mudah, lebih praktis bahkan lebih cepat menjadi penulis.
Namun,
ada seorang guru di sebuah sekolah menengah pertama yang mengeluh
kepada saya perihal resep menulis yang praktis, mudah dan cepat itu.
Sang guru mengaku sudah melahap banyak buku panduan menulis. Dia juga
sudah mencoba menerapkan berbagai tips yang ditawarkan. Tapi hasilnya,
menulis tetap menjadi hal yang sulit. Jangankan menghasilkan sebuah
tulisan yang layak jual, menulis tiga paragraf saja terasa berat sekali.
Mendengar
keluhan guru tadi, saya teringat tulisan Putu Wijaya yang dimuat dalam
salah satu buku kumpulan esainya. Judul tulisan itu, "Mengarang adalah
Berjuang". Putu Wijaya menemukan ungkapan itu manakala dia menyadari
menulis memang tidak menjadi perkara gampang bagi semua orang. Tatkala
memberi pelatihan menulis bagi guru-guru di Jakarta, Putu Wijaya
menemukan realitas yang bertolak belakang dengan ungkapan menulis itu
gampang.
Memang, bagi yang sudah terbiasa, menulis bisa sangat
gampang. Putu Wijaya misalnya bisa begitu sangat melimpah dengan
tulisan. Begitu juga Arswendo Atmowiloto begitu mudahnya melahirkan
beratus-ratus tulisan.
Akan tetapi, bagi mereka yang tidak biasa
menulis, tentu menjadi sangat berat untuk menghasilkan sebuah karya
tulis. Orang bisa berjam-jam duduk di depan komputer tetapi layar tetap
putih, kosong.
Saya rasa ungkapan Putu
Wijaya bahwa Mengarang (termasuk tentunya Menulis) merupakan sebuah
perjuangan. Artinya, seseorang melahirkan sebuah tulisan memang
memerlukan perjuangan yang berat, melelahkan dan terkadang butuh waktu
yang lama.
Analogi yang lazim dikemukakan para penulis mengenai
aktivitas menulis --dan saya kira tepat benar-- orang menulis itu
seperti orang melahirkan. Ketika gagasan begitu meledak-ledak,
melesak-lesak hendak dilahirkan, mesti melalui sebuah proses yang berat
yang membuat orang yang mengeram gagasan itu kesakitan luar biasa. Tapi,
begitu gagasan itu tersalurkan lewat tulisan, perasaan pun menjadi
plong, lapang kembali. Rasa sakit tak muncul lagi sampai proses
melahirkan gagasan kembali terjadi.
Artinya, menulis adalah sebuah
proses kreatif, sebuah proses intelektual. Karena itu, tidak ada jalan
pintas. Ibarat orang menaiki tangga, mesti rela menapaki satu demi satu
tangga itu. Orang tidak mungkin meloncat dari tangga pertama ke tangga
sepuluh. Jalan pintas dalam menulis hanya satu: jangan pernah berhenti
belajar menulis, jangan pernah berhenti berlatih. Semakin sering
berlatih, semakin mudah menulis itu.
Menulis sebagai sebuah
perjuangan juga bermakna proses memperjuangkan gagasan, proses
mempengaruhi orang. Artinya, menulis harus dilandasi sebuah tujuan
intelektual yakni mencerdaskan dan membangunkan kesadaran masyarakat.
Sederhananya,
karena menulis adalah perjuangan maka mulailah dengan langkah-langkah
kecil. Mulailah menulis hal-hal kecil, hal-hal yang dekat dengan diri
kita. Setelah hal-hal kecil itu bisa dikuasai, silahkan mulai mengamati
lingkungan sekitar, respons segala fenomena dan dinamika itu dengan
tulisan.
Mari berjuang untuk menulis! Karena perjuangan membutuhkan keberanian, maka jangan pernah takut untuk menulis!
Teks: I Made Sujaya
Teks: I Made Sujaya

0 komentar:
Posting Komentar