Minggu, 28 September 2014

Tips Membuat Perpustakaan Pribadi

Standard

Membuat perpustakaan pribadi itu mudah. Jangan melulu membayangkan perpustakaan pribadi itu mesti memiliki koleksi buku yang berlimpah. Jangan juga hanya memikirkan perpustakaan pribadi itu mesti memiliki ruangan khusus. Dengan koleksi buku yang hanya ratusan judul serta memanfaatkan ruang tamu, kita sudah bisa mendirikan sebua perpustakaan mungil yang kaya manfaat. 

Berikut ini disajikan sejumlah tips untuk membuat sebuah perpustakaan pribadi atau keluarga yang sederhana.

Koleksi buku
Koleksi buku memang menjadi kunci untuk mendirikan sebuah perpustakaan pribadi. Buku adalah rohnya perpustakaan. Namun, tak perlu keder mendirikan perpustakaan pribadi meskipun tak punya koleksi buku yang banyak.
Mulai saja dengan mengumpulkan buku-buku yang pernah dimiliki sejak masa sekolah. Majalah atau kliping koran juga bisa dijadikan koleksi perpustakaan pribadi. Coba tengok gudang di belakang rumah, barangkali ada buku-buku atau majalah yang pernah kita miliki tapi teronggok begitu saja. Kumpulkan buku dan majalah itu. Itu bisa menjadi modal koleksi perpustakaan pribadi Anda. Untuk menambah koleksi buku, tentu Anda bisa datang ke toko buku terdekat. Namun, namanya juga perpustakaan pribadi, koleksi buku Anda tergantung dengan minat Anda. Kalau Anda memiliki minat di bidang hukum, tentu Anda bisa mengoleksi buku-buku hukum. Ini tak salah karena perpustakaan Anda merupakan perpustakaan pribadi. Untuk mendapatkan buku koleksi, Anda tak hanya bisa datang ke toko buku besar yang umumnya menjual buku-buku baru, tapi bisa juga datang ke toko buku bekas. Mungkin Anda bisa mendapatkan buku-buku yang sesuai dengan minat Anda. Tapi, sejatinya, jika Anda memang berniat mendirikan perpustakaan pribadi, pasti karena memang Anda memang berminat pada buku. Itu artinya, Anda pasti sempat membeli buku-buku baru sehingga bisa menambah koleksi perpustakaan Anda.

Ruangan
Ruangan memang menjadi syarat sebuah perpustakaan, termasuk perpustakaan pribadi. Namun, Anda yang hendak mendirikan perpustakaan pribadi tak perlu berkecil hati hanya karena di rumah Anda tak tersedia ruangan khusus. Ruang-ruang yang ada juga bisa dimanfaatkan. Perpustakaan pribadi tak harus membutuhkan ruangan khusus. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang kerja, bahkan kamar tidur juga bisa dimanfaatkan untuk perpustakaan pribadi. Bahkan, ruang kosong di bawah tangga juga bisa dimanfaatkan untuk menaruh koleksi buku-buku Anda. Yang terpenting, pilih ruangan yang cukup dengan cahaya dan tidak lembab. Ruangan yang lembab bisa merusak rak dan buku-buku koleksi Anda.

Rak Buku
Rak buku memang merupakan prabot wajib dalam sebuah perpustakaan. Rak buku berfungsi sebagai tempat meletakkan dan menyimpan koleksi bacaan agar tidak berserakan. Banyak pilihan dan model rak buku yang bisa Anda dapatkan di pasaran. Bahkan, Anda bisa membuat sendiri rak buku yang sesuai kebutuhan Anda. Ada berbagai jenis rak buku perpustakaan. Ada rak buku terbuka, ada rak buku tertutup, ada juga rak buku built in. Semuanya tergantung kesukaan Anda.

Kursi dan Meja Baca
Perpustakaan pribadi tidak hanya berfungsi menyimpan buku-buku koleksi, juga tempat membaca-baca buku koleksi tersebut. Karena itu, keberadaan kursi dan meja baca dibutuhkan. Pilih kursi dan meja buku yang sesuai dan nyaman. Malah, bila memang Anda merasa nyaman membaca tanpa duduk di kursi dan bantuan meja, tidak apa-apa perpustakaan pribadi Anda tanpa dilengkapi kursi dan meja baca. Anda dan keluarga bisa membaca dengan santai di lantai.

Bagaimana Menata Buku?
Perpustakaan pribadi yang baik bukan hanya tempat menyimpan buku-buku koleksi. Tapi, yang tak kalah penting, bagaimana buku-buku koleksi itu ditata dengan rapi dan apik sehingga memudahkan Anda dan keluarga saat mencari buku. Karena itu, buku-buku di perpustakaan pribadi Anda perlu ditata. Jika memungkinkan, buku-buku itu dikelompokkan menggunakan format perpustakaan umum lengkap dengan program katalognya. Jika pun tidak, mungkin pula karena koleksi Anda masih terbatas, Anda cukup letakkan buku secara berkelompok sesuai tema, pengarang atau lainnya. Buku-buku bertema budaya Anda kumpulkan jadi satu. Begitu juga buku-buku bertema politik dikelompokkan dengan buku-buku sejenis. Dengan begitu Anda mudah mencari buku-buku itu saat dibutuhkan.

Merawat Buku
Hal yang tak kalah pentingnya dalam mengelola perpustakaan pribadi adalah merawat buku-buku koleksi Anda. Rajin-rajinlah membersihkan debu dalam rak buku Anda. Bila perlu, saat Anda memiliki waktu senggang, keluarkan seluruh buku lalu bersihkan debu dari rak dan buku. Masalah lainnya yakni rayap yang memakan buku dan rak. Semprot rak dengan antirayap serta jangan lupa menaruh kapur barus serta kemasan antiserangga. 

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Sabtu, 10 Agustus 2013

Usaha Penyewaan Bacaan di Kota Denpasar

Standard
Banyak yang menyebut minat baca masyarakat Bali masih rendah. Memang, satu dasa warsa terakhir mulai terlihat pertumbuhan. Namun, jika dilihat perbandingan antara produksi, penjualan buku serta tingkat kedatangan orang Bali ke perpustakaan dengan jumlah penduduk Bali, tetap saja minat baca orang Bali masih terbilang rendah. Namun belakangan, tempat-tempat penyewaan buku atau taman bacaan di Kota Denpasar semakin bertambah. Namun, serbuan play station serta mudahnya mengakses sumber bacaan di internet menjadi tantangan bagi usaha jasa ini. Sampai kapan usaha ini bisa bertahan? Adakah nasibnya akan sama dengan usaha serupa di kota lain yang banyak gulung tikar seperti Yogya?

Memang, tak ada data yang pasti berapa sesungguhnya jumlah usaha penyewaan buku di Kota Denpasar. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 1980-an silam, tentu jumlah usaha penyewaan buku di Denpasar saat ini sudah kian bertumbuh.

Era tahun 1985-an, pecinta komik Ko Ping Ho di kawasan Sanglah, Panjer, Sidakarya dan sekitarnya tentu ingat dengan Taman Bacaan Prasthiwi di bilangan Jalan Watureonggong, Denpasar. Taman bacaan yang dikelola Selamet Asmoro ini masuk jajaran tempat penyewaan buku generasi lawas di Denpasar. Hingga kini, Taman Bacaan Prasthiwi masih bertahan. Bahkan, sudah sampai membuka cabang di kawasan Monang-Maning, Denpasar dengan nama Prima.
“Komik-komik Ko Ping Ho di sini (Prasthiwi) kini ditaruh di Prima, karena di sini tak muat lagi,” tutur Ahmad, sang penjaga Taman Bacaan Prasthiwi.

Taman Bacaan Prima di Monang-maning juga lumayan ramai dengan pengunjung. Yang membuat Prima banyak dicari pecinta komik dan novel karena koleksinya relatif baru, selain komik dan novel lama.
Selain Prasthiwi, penyewaan buku Bromo Hasri yang pernah dibuka di Jalan Surapati kini pindah ke Jalan Kamboja, depan SMA 1 Denpasar. Bromo Hasri juga sudah berkembang lagi dengan membuka cabang di Jalan Teuku Umar, sebelah barat Simpang Enam.

Aris, penjaga Bromo Hasri di Jalan Kamboja menuturkan tingkat kunjungan ke tempatnya cukup baik. “Rata-rata sekitar 80 orang per hari. Kalau lagi ramai, bisa di atas 200 orang,” kata Aris.

Di Bromo Hasri cabang Teuku Umar, pengunjungnya lebih sedikit. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung sekitar 50-60 orang. “Kalau ramai antara 90-100 orang. Bahkan, kalau liburan bisa lebih dari itu,” kata Rizal yang dipercaya mengelola Bromo Hasri Teuku Umar.

Sementara di Prasthiwi, menurut pengakuan Ahmad, saban hari lebih dari 60 orang datang meminjam komik atau novel. Kalau musim liburan, jumlah pengunjung bisa mencapai 200 orang.

“Yang pasti Prasthiwi memiliki anggota hingga lebih dari 9.000 orang. Yang aktif mungkin sekitar 500 orang,” kata Ahmad.

Kebanyakan, yang datang menyewa buku ke taman bacaan adalah perempuan. Maklum, minat baca kaum hawa memang relatif lebih baik daripada kaum adam. Kendati begitu, pengelola tetap menghadirkan koleksi komik dan novel khusus laki-laki selain komik dan novel untuk perempuan. “Banyak juga cowok yang suka pinjam komik,” kata Amel, penjaga Taman Bacaan Prima.

Harga sewa buku di tempat-tempat penyewaan buku di Denpasar cukup beragam, tergantung jenis bukunya. Buku-buku komik lama biasanya disewakan dengan harga Rp 1.000-Rp 2.000 per komik dengan waktu pinjam rata-rata 2-3 hari. Sementara komik baru disewakan dengan harga Rp 2.500 per komik per hari.
“Kalau komik baru memang lebih mahal dan waktu sewanya juga pendek karena komik baru itu banyak dicari orang,” tutur Rizal.

Sementara harga sewa buku novel lebih mahal, tetapi tidak sama harga sewa satu novel dan novel yang lain. Novel Harry Potter edisi 1-6 misalnya, harga sewanya Rp. 25.000 untuk lima hari. Sementara edisi ketujuh, edisi terbaru harga sewanya lebih mahal menjadi Rp 70.000 per lima hari.

Namun, kebanyakan orang menyewa buku komik tinimbang buku novel. Karena itu, koleksi yang dimiliki pun didominasi buku komik. Namun, komik yang banyak dicari pun bukanlah komik produk dalam negeri, melainkan komik-komik Jepang serta Korea.

Biasanya, komik-komik yang disewakan adalah komik serial. Komik serial yang banyak dicari, serial Naruto dan Onepiece. Ada juga yang menyukai komik Doraemon serta Fight Ippo.

Kuncinya Koleksi Terbaru dan Lengkap

Namun, tak semua tempat penyewaan buku yang bisa bertahan. Beberapa tempat penyewaan buku juga ada yang tutup. Ada juga yang bertahan, meskipun ditinggal pelanggannya. Pengelola biasanya akan mengombinasikan usahanya dengan penjualan majalah, koran atau menjual makanan dan minuman.
Salah satu usaha penyewaan buku komik di Monang-maning yang sudah beroperasi sejak tahun 80-an, kini mulai ditinggal pelanggannya. Sang penjaga yang enggan namanya disebut di koran menuturkan jumlah pengunjung di tempatnya sudah jauh menyusut. “Kadang-kadang ada, kadang-kadang tak ada sama sekali,” ujarnya.

Penyebab menyusutnya jumlah pengunjung, menurutnya, karena koleksi komik yang dimiliki sudah tak ada yang baru lagi. Akhirnya, para pelanggannya memilih mencari tempat penyewaan buku lain yang koleksinya lebih lengkap.

“Karena penyewaan komiknya sepi, maka bos menjual koran dan majalah, agar tetap bisa berjalan,” kata sang penjaga.

Memang, kelengkapan dan kebaruan koleksi menjadi kata kunci bagi suksesnya usaha penyewaan komik. Kalau sekali dua kali ada pelanggan yang mencari salah satu judul komik dan tak ditemukan, maka usaha penyewaan buku itu akan ditinggal.

Para pengelola usaha penyewaan buku biasanya akan berupaya untuk menghadirkan koleksi-koleksi terbaru di tempatnya. Ada yang menjalin kerja sama dengan toko buku, ada juga yang langsung berhubungan dengan penerbit sehingga bisa mendapat harga yang lebih murah.

Bersaing dengan PS dan Internet

Mau tak mau usaha penyewaan buku yang ada di Denpasar memang harus berjuang untuk bisa bertahan. Memang, minat baca masyarakat Bali sudah bertumbuh. Namun,  tetap saja minat baca masyarakat Bali masih dianggap rendah.

Selain itu, usaha jasa penyewaan buku juga harus bersaing dengan kian maraknya tempat penyewaan play station serta internet yang memudahkan akses orang untuk mendapatkan bacaan.

Tantangan ini diakui Ahmad. Bahkan, Ahmad secara jujur mengakui jumlah pengunjung belakangan relative turun jika dibandingkan sebelumnya. Penyebabnya, orang sudah lebih mudahy mengakses buku di internet.
“Naruto edisi terbaru misalnya sudah lebih dulu didapat di internet. Kita kan belakangan baru bisa memajangnya,” kata Ahmad.

Selain itu, kian bertambahnya tempat usaha penyewaan buku di Denpasar juga menyebabkan persaingan menjadi lebih ketat. Tempat-tempat penyewaan buku yang koleksinya terbatas akan segera ditinggal pelanggannya.

Di Yogyakarta, usaha penyewaan buku memang cukup banyak jumlahnya. Namun, banyak pula yang terpaksa gulung tikar karena tak mampu bersaing. Yang diajak bersaing bukan saja sesame tempat penyewaan buku, tetapi juga play station dan internet.

Karena itu, tak berlebihan jika Gde Aryantha Soethama, seorang pecinta buku yang pernah mengelola usaha penyewaan buku di era tahun 1985 agak pesimis dengan kehidupan tempat penyewaan buku ini. Menurutnya, bertumbuhnya usaha penyewaan buku di Denpasar lebih dilandasi niat coba-coba karena di Denpasar usaha serupa belum banyak seperti di Yogyakarta.  (jk)

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Jumat, 29 Maret 2013

Perpustakaan di Rumah Itu Perlu!

Standard
Kehadiran perpustakaan pribadi di rumah kini tak semata menjadi kebutuhan dosen, guru atau kalangan cendekiawan. Masyarakat umum pun mulai berminat menyediakan perpustakaan kecil di tengah-tengah rumahnya. Sebagian menganggap kehadiran perpustakaan di rumah sangat penting di tengah tingginya kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Sebagian lainnya memandang perpistakaan di rumah sebagai investasi ilmu pengetahuan bagi anak cucu kelak.


Awal tahun 2010. Nyoman Sarjana, seorang tokoh masyarakat Legian, memandangi sebuah ruang kosong di salah satu sudut rumahnya. Ruangan itu dulu merupakan kamar bagi dua orang pembantunya. Tapi, kamar itu kini sudah dibongkar saat renovasi rumahnya. Kini ruangan itu dibiarkan lapang tersambung dengan ruangan tamu. 


Melihat ruangan yang cukup luas itu kosong, Sarjana berpikir untuk memanfaatkannya. Membangun perpustakaan keluarga tiba-tiba melintas dalam pikirannya. “Saya teringat koleksi buku-buku saya sejak masih kuliah. Kasihan kalau buku-buku itu dibuang,” kata Sarjana yang tahun 2007 lalu menerbitkan buku otobiografinya yang diberi judul Mensyukuri Hidup dengan Perjuangan, Memaknai Hidup dengan Pengabdian.

Maka, mulailah Sarjana membeli rak buku sederhana untuk memajang koleksi bukunya. Kini, koleksi buku Sarjana semakin banyak. Sebagian besar berisi buku-buku agama, adat dan budaya Bali. Belakangan, Sarjana juga melengkapi koleksinya dengan buku-buku bacaan anak-anak.

“Anak saya suka membaca. Dia sangat suka diajak ke toko buku. Jadi, saya belikan buku bacaan untuk dia dan ditaruh di perpustakaan ini,” kata mantan Ketua LPM Legian yang kini mengurus SIP School Legian. 

Sarjana menuturkan saat sedang santai selalu memilih duduk di ruang perpustakaan pribadinya. Ada saja buku yang dibacanya. “Walaupun koleksi buku saya terbatas, tapi saya belum bisa membaca semuanya. Tapi,saya selalu ingin menambah koleksi. Kalau sedang ke luar daerah atau punya kesempatan ke luar negeri, saya selalu sempatkan membeli buku baru untuk menambah koleksi,” kata Sarjana. 

Tak hanya Sarjana yang begitu bergairah mendirikan perpustakaan pribadi di rumahnya. Seorang warga Kuta, dr. I Wayan Mustika malah sejak lama memanfaatkan pojok ruang tamunya sebagai perpustakaan pribadi. Koleksinya kebanyakan berupa buku-buku referensi, seperti kamus dan ensiklopedia, serta buku-buku spiritual. Mustika memang menekuni dunia spiritual. Bahkan, dia sudah menulis sebuah buku spiritual, Dunia Tanpa Suara yang diterbitkan sebuah penerbit nasional, Elex Media Komputindo. 

Menurut Mustika, perpustakaan di rumah itu bukan hanya pelengkap, tetapi sebuah kebutuhan. Kehadiran perpustakaan di rumah tidak saja menunjukkan sejauh mana seseorang akrab dengan ilmu pengetahuan, juga menunjukkan pemahamannya tentang investasi bagi masa depan. “Investasi paling penting dewasa ini kan ilmu pengetahuan,” kata Mustika.

Mustika bercerita setiap hari selalu menyediakan waktu untuk membaca buku di perpustakaan pribadinya. “Paling tidak untuk membaca koran atau buku-buku yang baru saya beli,” kata Mustika. 

Pentingnya perpustakaan di rumah juga dirasakan seorang guide wisatawan domestik, I Made Oka Andi Wirawan. Lelaki asal Dapdap Putih, Buleleng ini memiliki sebuah perpustakaan mungil di ruang tamu rumahnya di kawasan Jalan Ahmad Yani, Denpasar. Koleksi bukunya umumnya buku-buku agama dan budaya Bali serta buku-buku pariwisata. 

“Perpustakaan di rumah itu tak perlu besar-besar, koleksi juga tak perlu banyak. Yang penting kita punya koleksi buku yang sesuai dengan minat kita dan sebuah rak kecil tempat menaruh buku. Itu sudah cukup. Ketika sedang santai, kita bisa baca-baca buku itu,” kata Made Oka. 

Jika masyarakat umum saja memandang perlu kehadiran perpustakaan pribadi di rumah, apalagi bagi kalangan dosen, guru, penulis serta cendekiawan. I Made Wiradnyana, seorang dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar misalnya menilai perpustakaan pribadi di rumah menjadi cerminan seorang dosen atau guru. Baginya, seorang dosen atau guru wajib memiliki perpustakaan di rumahnya. 

“Dosen atau guru itu kan agen ilmu pengetahuan. Dia yang akan mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak mahasiswa atau murid-muridnya. Jadi, dia sendiri harus dekat dengan ilmu pengetahuan. Secara kasar, kedekatan dengan ilmu pengetahuan itu ditunjukkan dengan koleksi buku yang dimiliki di rumahnya,” kata Wiradnyana yang kini dipercaya mengurus perpustakaan di kampus IHDN Denpasar. 

Wiradnyana memang tak punya ruang perpustakaan khusus. Dia memanfaatkan ruang tamunya yang cukup luas untuk perpustakaan. Dua buah rak buku tinggi terlihat apik di ruang tamu rumahnya di Jalan Badak Agung, Denpasar. Di sebelah rak buku itu, terlihat sebuah komputer, tempatnya mengerjakan tugas-tugas kampus. 

Arti penting perpustakaan pribadi bagi seorang dosen juga diakui Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah IKIP PGRI Bali, Ida Ayu Agung Ekasriasi. Karena itu, dia memiliki sebuah ruangan khusus di rumahnya di Jalan Cekomaria Denpasar yang dijadikan perpustakaan pribadi. Dayu ---begitu dia biasa dipanggil—memajang dua buah rak buku panjang tempat menaruh koleksi buku-bukunya yang umumnya merupakan buku-buku bahasa dan sastra Indonesia sesuai bidang ilmu yang diajarkannya.

“Perpustakaan di rumah dosen itu mutlak. Karena dosen wajib memiliki buku sebagai pegangan untuk mengajar. Jadi, tak cukup meminjam di perpustakaan umum, dosen harus memiliki buku itu di rumah,” kata Dayu.

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Menulis Itu Perjuangan

Standard
Banyak buku panduan menulis menguraikan bahwa menulis itu gampang. Karena gampang, siapa pun bisa menulis, semua orang bisa menjadi penulis. Aneka tips pun disodorkan kepada mereka yang ingin belajar menulis. Tips-tips itu, konon, membuat orang lebih mudah, lebih praktis bahkan lebih cepat menjadi penulis.

Namun, ada seorang guru di sebuah sekolah menengah pertama yang mengeluh kepada saya perihal resep menulis yang praktis, mudah dan cepat itu. Sang guru mengaku sudah melahap banyak buku panduan menulis. Dia juga sudah mencoba menerapkan berbagai tips yang ditawarkan. Tapi hasilnya, menulis tetap menjadi hal yang sulit. Jangankan menghasilkan sebuah tulisan yang layak jual, menulis tiga paragraf saja terasa berat sekali.

Mendengar keluhan guru tadi, saya teringat tulisan Putu Wijaya yang dimuat dalam salah satu buku kumpulan esainya. Judul tulisan itu, "Mengarang adalah Berjuang". Putu Wijaya menemukan ungkapan itu manakala dia menyadari menulis memang tidak menjadi perkara gampang bagi semua orang. Tatkala memberi pelatihan menulis bagi guru-guru di Jakarta, Putu Wijaya menemukan realitas yang bertolak belakang dengan ungkapan menulis itu gampang.

Memang, bagi yang sudah terbiasa, menulis bisa sangat gampang. Putu Wijaya misalnya bisa begitu sangat melimpah dengan tulisan. Begitu juga Arswendo Atmowiloto begitu mudahnya melahirkan beratus-ratus tulisan.

Akan tetapi, bagi mereka yang tidak biasa menulis, tentu menjadi sangat berat untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Orang bisa berjam-jam duduk di depan komputer tetapi layar tetap putih, kosong.


Saya rasa ungkapan Putu Wijaya bahwa Mengarang (termasuk tentunya Menulis) merupakan sebuah perjuangan. Artinya, seseorang melahirkan sebuah tulisan memang memerlukan perjuangan yang berat, melelahkan dan terkadang butuh waktu yang lama.


Analogi yang lazim dikemukakan para penulis mengenai aktivitas menulis --dan saya kira tepat benar-- orang menulis itu seperti orang melahirkan. Ketika gagasan begitu meledak-ledak, melesak-lesak hendak dilahirkan, mesti melalui sebuah proses yang berat yang membuat orang yang mengeram gagasan itu kesakitan luar biasa. Tapi, begitu gagasan itu tersalurkan lewat tulisan, perasaan pun menjadi plong, lapang kembali. Rasa sakit tak muncul lagi sampai proses melahirkan gagasan kembali terjadi.

Artinya, menulis adalah sebuah proses kreatif, sebuah proses intelektual. Karena itu, tidak ada jalan pintas. Ibarat orang menaiki tangga, mesti rela menapaki satu demi satu tangga itu. Orang tidak mungkin meloncat dari tangga pertama ke tangga sepuluh. Jalan pintas dalam menulis hanya satu: jangan pernah berhenti belajar menulis, jangan pernah berhenti berlatih. Semakin sering berlatih, semakin mudah menulis itu.

Menulis sebagai sebuah perjuangan juga bermakna proses memperjuangkan gagasan, proses mempengaruhi orang. Artinya, menulis harus dilandasi sebuah tujuan intelektual yakni mencerdaskan dan membangunkan kesadaran masyarakat.

Sederhananya, karena menulis adalah perjuangan maka mulailah dengan langkah-langkah kecil. Mulailah menulis hal-hal kecil, hal-hal yang dekat dengan diri kita. Setelah hal-hal kecil itu bisa dikuasai, silahkan mulai mengamati lingkungan sekitar, respons segala fenomena dan dinamika itu dengan tulisan.

Mari berjuang untuk menulis! Karena perjuangan membutuhkan keberanian, maka jangan pernah takut untuk menulis!

Teks: I Made Sujaya

Membaca Dahulu, Mengarang Kemudian

Standard
Kegelisahan soal guru mata ajar bahasa dan sastra Indonesia sejatinya bukanlah hal yang baru. Keluhan ini sudah sejak lama mengada, tak hanya karena sangat sedikit dari guru mata ajar ini yang tidak suka menulis, juga tidak memiliki minat yang menggembirakan dalam dunia sastra. Kenyataannya, pola ajar mereka lebih terpusat kepada masalah tata bahasa, sementara sastra yang lebih memberi peluang untuk memantik rasa, batin dan nurani agak terabaikan. Kondisi inilah kemudian melahirkan pemikiran untuk memisahkan saja mata ajar bahasa dan sastra, sehingga kedua bidang ini mendapat perhatian yang seimbang dan proporsional.

Pemisahan bidang dalam mata ajar bahasa dan sastra Indonesia memang tak sampai menjadi kenyataan. Namun, salah satu harapan soal pelajaran mengarang sedikit diakomodasi. Ujian mengarang kini telah menjadi salah satu kewajiban penting yang mesti ditempuh siswa.

Namun, dari diskusi seputar pelajaran mengarang yang tergelar di halaman ini sama sekali belum menyentuh budaya membaca. Padahal, membaca merupakan faktor amat penting bagi sebuah keterampilan mengarang atau menulis. Meminjam istilah Taufik Ismail, membaca dan mengarang atau menulis merupakan ‘’kakak-adik kandung yang tak terpisahkan’’.


Bila memang ingin menumbuhkan budaya mengarang di kalangan siswa, maka mulailah dengan memupuk kebiasaan mereka membaca. Amatlah mustahil, seorang siswa diharapkan bisa mengarang hebat sementara dia tak pernah membaca. Lantaran, dari membacalah siswa bisa menggali banyak bahan yang bisa ditulisnya. Pengalaman empiris yang diselaminya lebih bersifat memberi ‘’jiwa’’ tulisan atau karangannya itu. 


Sampai di sini, mau tidak mau kita mesti menengok kondisi budaya membaca di kalangan bangsa kita, khususnya di kalangan pelajar. Untuk mendapatkan gambaran kondisi budaya baca itu, menarik untuk melihat perbandingan data yang dipaparkan Taufik Ismail dalam makalahnya berjudul ‘’Dari Kupu-kupu di dalam Buku, sampai Menanam Bibit Hutan Jati’’ yang disampaikan dalam Prakongres Kebudyaan V di Denpasar 28-30 April lalu. 

Di Amerika Serikat (AS), disebutkan Taufik, rata-rata tamatan SMU membaca 32 judul buku sastra. Di Malaysia, seorang siswa SMU sebelum tamat wajib membaca 12 novel, 18 cerita pendek, 8 drama, 18 puisi modern, dan 18 puisi tradisional. Dibandingkan dengan siswa kedua negara itu (dengan syarat serupa yaitu buku sastra itu disebut di kurikulum, disediakan di perpustakaan, siswa menulis mengenai buku itu dan akhirnya diujikan), maka menurut Taufik tamatan SMU di negeri kita membaca nol buku. 

Mungkin, gambaran data yang ditampilkan Taufik terlalu skeptis. Namun, kita memang tidak sepenuhnya bisa membantah betapa kuantitas buku-buku sastra yang dibaca siswa kita masih sangat jauh dibandingkan kedua negara yang dicontohkan itu. Memang, siswa SMU di Indonesia memiliki pengetahuan sastra. Mereka mengenal beberapa keping puisi-puisi Chairil Anwar, tahu alur dan jalan cerita novel Siti Nurbaya atau dengan fasih bisa menyebutkan termasuk angkatan berapa pengarang Sutan takdir Alisjahbana. Namun, bila kita hendak bertanya sejauh mana mereka diberikan kesempatan untuk menikmati, membaca secara utuh novel atau buku puisi, kita mesti rela menelan kekecewaan. Yang diajarkan selama ini adalah pengetahuan sastra, bukan memberikan ruang kepada siswa untuk menikmati dan menyelami sebuah karya sastra secara utuh. Sementara hakikat karya sastra adalah menyucikan batin manusia sehingga dia bisa menyelami alam kemanusiaannya yang paling dasar.

Maka, tidaklah keliru ketika muncul kasus mahasiswa jurusan Sastra Indonesia yang belum pernah sekali pun membaca sebuah buku novel secara utuh. Dia hanya tahu jalan cerita Belenggu, tahu tokoh-okohnya karena ketika gurunya menyuruh membuat sinopsis, dia tinggal menjiplak sinopsis kakak-kakak kelasnya. Kondisi ini berimplikasi serius ketika sang mahasiswa itu menyusun proposal penelitian untuk skripsi. Karena tak pernah bergaul dengan karya-karya sastra, mereka jadi gugup dan akhirnya gagap. Membaca sebuah novel yang bakal dijadikan objek penelitian, dia malah kebingungan, tak menemukan masalah sama sekali. 

Karena itu, sekali lagi, bila memang guru ingin menumbuhkan keterampilan mengarang aau menulis siswa, apalagi kini sudah menjadi bagian penting yang wajib dimiliki siswa, seyogyanya guru mendorong agar siswa gemar membaca dulu, terutama karya sastra. Janganlah dulu berpikir ingin menyamai jumlah buku yang wajib dibaca di AS dan Malaysia, mungkin kita bisa memakai ukuran siswa diwajibkan dalam tiap semester membaca satu novel, tiga buah puisi modern, dua buah puisi tradisional, satu buah drama dan dua buah cerpen. Bacaan wajib itu kemudian diujikan secara proporsional untuk menumbuhkan wawasan sastra siswa. 

Upaya semacam itu memang akan berhadapan dengan kondisi perpustakaan sekolah yang masih belum representatif terutama di sekolah-sekolah pinggiran. Kendala itu bisa ditanggulangi dengan menempuh cara mewajibkan siswa yang akan tamat untuk menyumbangkan sebuah novel, sebuah buku kumpulan puisi, buku kumpulan cerpen atau pun buku drama. Dengan begitu, setiap tahun perpustakaan sekolah akan memiliki tambahan koleksi. 

Bila pun upaya itu masih sulit dilakukan, bisa ditempuh dengan cara yang amat minimal. Saya memakai ilustrasi pengalaman saya sendiri ketika masih duduk di bangku SLTP. Saya masih ingat betul, guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah saya (SLTP 1 Dawan, Klungkung) mewajibkan seluruh siswa untuk minimal meminjam sebuah buku di perpustakaan dalam tiap semester. Bagi yang tidak memenuhi kewajiban ini, saat penerimaan raport terpaksa raportnya ditahan dulu, sementara yang paling banyak meminjam buku diberikan hadiah. 

Saya tak tahu, apakah ‘’gerakan’’ itu masih dilanjutkan kini di sekolah saya atau tidak. Namun, agaknya langkah terakhir ini tidak terlalu sulit dilaksanakan. Bila ingin memperkuat motivasi siswa agar mereka meminjam buku tak sekadar memenuhi kewajiban, barangkali bisa dirangsang dengan kewajiban mereka untuk meresensi buku yang dipinjamnya. Resensi mereka itu kemudian dinilai dan pada saat pembagian raport resensi terbaik diumumkan dan diberikan hadiah khusus. 

Intinya, memang harus ada inovasi dari guru bahasa dan sastra Indonesia sendiri untuk mendekatkan siswa dengan budaya membaca. Lebih penting dari semua itu adalah komitmen diri. Jika sudah punya komitmen dan inovatif, kendala apa yang menghadang misalnya masalah tuntutan kurikulum bisa disiasati. Bukankah kurikulum sendiri menganjurkan guru untuk berkreasi dan berinovasi? (jk)

Sabtu, 16 Maret 2013

Jangan Takut Menulis!

Standard
Menulis memang tidak mudah. Menulis betul-betul membutuhkan kerja keras. Menulis sungguh merupakan kerja berpeluh. Seorang penulis adalah orang yang memiliki semangat pantang menyerah. Seorang penulis adalah orang yang mau berproses. Mereka yang hanya ingin jalan pintas, tidak cocok menjadi penulis.

Walau begitu, jangan takut menulis. Menulis justru membutuhkan keberanian, selain pengetahuan yang cukup tentang sesuatu yang ditulis. Keberanian malah menjadi kunci bagi orang yang ingin menjadi penulis. Keberanian adalah modal awal dan utama dalam menulis.

Orang yang ingin menjadi penulis harus berani menulis. Berani menulis artinya berani dan mau belajar menempuh proses berpeluh untuk menghasilkan tulisan. Belajar menulis, seperti lazimnya orang belajar keterampilan yang lain, tentu tidak sekali langsung berhasil. Perlu berkali-kali latihan. Jalan pintas belajar menulis hanya satu: berlatih, berlatih, berlatih, berlatih dan berlatih. Tidak ada yang lain. 

Seorang penulis juga adalah orang yang berani untuk tampil. Seorang penulis berani tampil dengan gagasannya, berani tampil dengan pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pandangan orang pada umumnya. 


Justru, seorang penulis penting memiliki pendapat atau gagasan yang berbeda dengan pandangan umum. Gagasan yang kontroversial adalah gagasan yang menjual. 


Kalau pun tidak kontroversial, cukup penting bagi seorang penulis memiliki gagasan yang segar, gagasan yang baru. Karena menulis adalah kerja kreatif. Kerja kreatif dicirikan dengan inovasi, sesuatu yang baru. 


Agar keberanian menampilkan gagasan itu semakin kuat, seorang penulis mesti mengeksplorasi gagasannya agar semakin kokoh. Artinya, seorang penulis mesti menguasai apa yang ditulisnya. Tidak perlu menjadi pakar, tetapi seorang penulis patut mengenali masalah yang ditulis. 


Kini tidak sulit untuk melakukan penelitian kecil-kecilan untuk memperkaya gagasan yang ditulis. Selain membaca buku-buku atau kliping koran dan majalah, seorang penulis juga bisa menelusuri fakta dan informasi yang berkaitan dengan masalah yang ditulis di internet. Dunia maya sungguh merupakan ruang belajar yang sangat kaya. 


Bagaimana jika gagasan seorang penulis ditanggapi orang lan? Justru inilah yang diharapkan seorang penulis. Gagasannya bersambut. Ada respons dari pembaca. Memang, respons itu beragam. Ada yang mendukung, ada pula yang menentang. Ada yang mendukung, ada pula yang membantah. Menghadapi hal semacam ini, seorang penulis tak mesti gundah. Keragaman gagasan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, gagasan penulis yang berbeda dengan gagasan orang lain tak mesti dijemput dengan kekhawatiran. 


Yang menentukan kualitas sebua gagasan adalah argumentasi. Karena itu, seorang penulis akan berjuang untuk memperkuat argumentasinya. Itu artinya, eksplorasi atas gagasan mesti terus dilakukan hingga tulisan dilahirkan. 


Karena itu, jangan takut menulis!


(Teks: I Made Sujaya)