Kehadiran perpustakaan pribadi di
rumah kini tak semata menjadi kebutuhan dosen, guru atau kalangan
cendekiawan. Masyarakat umum pun mulai berminat menyediakan perpustakaan
kecil di tengah-tengah rumahnya. Sebagian menganggap kehadiran
perpustakaan di rumah sangat penting di tengah tingginya kebutuhan
informasi dan ilmu pengetahuan. Sebagian lainnya memandang perpistakaan
di rumah sebagai investasi ilmu pengetahuan bagi anak cucu kelak.
Awal tahun 2010. Nyoman Sarjana, seorang tokoh masyarakat Legian, memandangi
sebuah ruang kosong di salah satu sudut rumahnya. Ruangan itu dulu
merupakan kamar bagi dua orang pembantunya. Tapi, kamar itu kini sudah
dibongkar saat renovasi rumahnya. Kini ruangan itu dibiarkan lapang
tersambung dengan ruangan tamu.
Melihat ruangan yang cukup luas itu
kosong, Sarjana berpikir untuk memanfaatkannya. Membangun perpustakaan
keluarga tiba-tiba melintas dalam pikirannya. “Saya teringat koleksi
buku-buku saya sejak masih kuliah. Kasihan kalau buku-buku itu dibuang,”
kata Sarjana yang tahun 2007 lalu menerbitkan buku otobiografinya yang
diberi judul Mensyukuri Hidup dengan Perjuangan, Memaknai Hidup dengan
Pengabdian.
Maka, mulailah Sarjana membeli rak buku sederhana untuk
memajang koleksi bukunya. Kini, koleksi buku Sarjana semakin banyak.
Sebagian besar berisi buku-buku agama, adat dan budaya Bali. Belakangan,
Sarjana juga melengkapi koleksinya dengan buku-buku bacaan anak-anak.
“Anak
saya suka membaca. Dia sangat suka diajak ke toko buku. Jadi, saya
belikan buku bacaan untuk dia dan ditaruh di perpustakaan ini,” kata
mantan Ketua LPM Legian yang kini mengurus SIP School Legian.
Sarjana
menuturkan saat sedang santai selalu memilih duduk di ruang
perpustakaan pribadinya. Ada saja buku yang dibacanya. “Walaupun koleksi
buku saya terbatas, tapi saya belum bisa membaca semuanya. Tapi,saya
selalu ingin menambah koleksi. Kalau sedang ke luar daerah atau punya
kesempatan ke luar negeri, saya selalu sempatkan membeli buku baru untuk
menambah koleksi,” kata Sarjana.
Tak hanya Sarjana yang begitu
bergairah mendirikan perpustakaan pribadi di rumahnya. Seorang warga
Kuta, dr. I Wayan Mustika malah sejak lama memanfaatkan pojok ruang
tamunya sebagai perpustakaan pribadi. Koleksinya kebanyakan berupa
buku-buku referensi, seperti kamus dan ensiklopedia, serta buku-buku
spiritual. Mustika memang menekuni dunia spiritual. Bahkan, dia sudah
menulis sebuah buku spiritual, Dunia Tanpa Suara yang diterbitkan sebuah
penerbit nasional, Elex Media Komputindo.
Menurut Mustika,
perpustakaan di rumah itu bukan hanya pelengkap, tetapi sebuah
kebutuhan. Kehadiran perpustakaan di rumah tidak saja menunjukkan sejauh
mana seseorang akrab dengan ilmu pengetahuan, juga menunjukkan
pemahamannya tentang investasi bagi masa depan. “Investasi paling
penting dewasa ini kan ilmu pengetahuan,” kata Mustika.
Mustika
bercerita setiap hari selalu menyediakan waktu untuk membaca buku di
perpustakaan pribadinya. “Paling tidak untuk membaca koran atau
buku-buku yang baru saya beli,” kata Mustika.
Pentingnya
perpustakaan di rumah juga dirasakan seorang guide wisatawan domestik, I
Made Oka Andi Wirawan. Lelaki asal Dapdap Putih, Buleleng ini memiliki
sebuah perpustakaan mungil di ruang tamu rumahnya di kawasan Jalan Ahmad
Yani, Denpasar. Koleksi bukunya umumnya buku-buku agama dan budaya Bali
serta buku-buku pariwisata.
“Perpustakaan di rumah itu tak perlu
besar-besar, koleksi juga tak perlu banyak. Yang penting kita punya
koleksi buku yang sesuai dengan minat kita dan sebuah rak kecil tempat
menaruh buku. Itu sudah cukup. Ketika sedang santai, kita bisa baca-baca
buku itu,” kata Made Oka.
Jika masyarakat umum saja memandang perlu
kehadiran perpustakaan pribadi di rumah, apalagi bagi kalangan dosen,
guru, penulis serta cendekiawan. I Made Wiradnyana, seorang dosen
Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar misalnya menilai
perpustakaan pribadi di rumah menjadi cerminan seorang dosen atau guru.
Baginya, seorang dosen atau guru wajib memiliki perpustakaan di
rumahnya.
“Dosen atau guru itu kan agen ilmu pengetahuan. Dia yang
akan mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak mahasiswa atau
murid-muridnya. Jadi, dia sendiri harus dekat dengan ilmu pengetahuan.
Secara kasar, kedekatan dengan ilmu pengetahuan itu ditunjukkan dengan
koleksi buku yang dimiliki di rumahnya,” kata Wiradnyana yang kini
dipercaya mengurus perpustakaan di kampus IHDN Denpasar.
Wiradnyana
memang tak punya ruang perpustakaan khusus. Dia memanfaatkan ruang
tamunya yang cukup luas untuk perpustakaan. Dua buah rak buku tinggi
terlihat apik di ruang tamu rumahnya di Jalan Badak Agung, Denpasar. Di
sebelah rak buku itu, terlihat sebuah komputer, tempatnya mengerjakan
tugas-tugas kampus.
Arti penting perpustakaan pribadi bagi seorang
dosen juga diakui Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
IKIP PGRI Bali, Ida Ayu Agung Ekasriasi. Karena itu, dia memiliki sebuah
ruangan khusus di rumahnya di Jalan Cekomaria Denpasar yang dijadikan
perpustakaan pribadi. Dayu ---begitu dia biasa dipanggil—memajang dua
buah rak buku panjang tempat menaruh koleksi buku-bukunya yang umumnya
merupakan buku-buku bahasa dan sastra Indonesia sesuai bidang ilmu yang
diajarkannya.
“Perpustakaan di rumah dosen itu mutlak. Karena dosen
wajib memiliki buku sebagai pegangan untuk mengajar. Jadi, tak cukup
meminjam di perpustakaan umum, dosen harus memiliki buku itu di rumah,”
kata Dayu.
Teks dan Foto: I Made Sujaya
Teks dan Foto: I Made Sujaya

0 komentar:
Posting Komentar